KUNTI SRAYA

Classic
Balinese Barong D
ance

Performance

Kunti Sraya

At The Village Of The GODs ‘’ Kedewatan’’

by Sanggar NITI SWARGI


first act represents the two servants of dewi Kunti who are so sad knowing the fact that their beloved mester (Sahadewa) will be sacrified to the Rangde. A hair rising howling sound is herd, thenfllowed by the appearance of a

frightening witch. Shortly after the witch disappers, they ask the patih (minister) to come.

scoud act tells how Dewi Kunti, as a loving mom, against her will to secfice her beloved son. However the witch appers and bewitches her. Soon after she orders the minister to take sahadewa to the fores and tie

s him on a tree in front of the abode of the rangda.

third scene expresses the sadness of the minister who also loves sahadewa. likewise Dewi Kunti, He is also under spelled by the witches who suddenly appear. immadeately patih takes sahadewa to the forest and ties him on a tree in front of the abode of the rangda.

fourth scene show the god of ciwa, who has pity on sahadewa and gives sahadewa immortality. Rangda comes out on the following scene. Being carried on the shoulders of her followers, she is ready and eager to kill sahadewa. in fact, this comes to failure because of the immortality given by god of Ciwa. Admitting that she cannot kill sahadewa, she asks him for redemption so her soul can go to heaven. sahadewa agreed and redeem her. Her soul goes to the heaven.

On the six acts, performs kalika, a disciple of Rangda. she also wents to be redeemed, however sahadewa refuses and thereensues a fight between sahadewa and kalika. using her magic power, meditates and transforms herself into aboar. This boar is defeated. Out she comes again into Crow (Garuda/Jabali). she fights and loses again and finally she transforms herself into the powerful of rangda, as Rangda is too powerful for sahadewa. Sahadewa finally meditates and becomes a Barong, but thefight is undecided and the barong leaves the stage to call his followers.

On the final acts, comes with their kris to attack the rangda, hevil

however cannot yet be destroyed. By the spell of Rangda, the kris on the hand of those followers trun against to them, but the magic of the Barong hardened their flesh so that although they push the sharp points of the kris, they are not even hurt.

This can only be performed on a complete trance dance with impunity otherwise a man will wound himself or hurt others. Possessed as they are,they have a super natural power or strength and it takes many men to hold them down to disarm. To take the men out of trance , they are led, one by one, to where the barong stand and the Pemangku (the templepriest) puts sacrificial offerings on the ground. After finished to recite ‘’ mantras’’ the magic formulas, they then sprinkles holy water to the face of each man and gradually the hysterical men come out of trance, daze,
simplywalking away as if they did not know what han happened to them. The temple priest to sacrifice a black color baby chicken and the blood should be spilled on the ground as a blood sacrifices to please the spirits.

Mario Blanco Man of The Year 2010


Putra daerah Bali Mario Blanco kedua kalinya terpilih sebagai Man of the Year 2010. Ia menyisihkan 490 calon dari tokoh di bidangnya masing-masing. Terpilihnya Mario Blanco kedua kali ini kian membuktikan bahwa putra Bali sangat pantas menjadi panutan dalam hal karya, perilaku, budi pekerti, visi kemasyarakatan dan perannya dalam memajukan lingkungan masyarakat.''Penganugrahan penghargaan (Man of the Year 2010) ini bagi saya sangat menggembirakan,''komentar Mario Blanco. Namun seniman ini juga mengatakan, justru karena itu tanggung jawabnya sebagai penerima penghargaan itu makin berat. ''Pengharagaan itu justru memicu saya berbuat lebih banyak, menjadi spirit ke depan baik bagi masyarakat maupun lingkungan,'' paparnya.Mario Blanco dikenal sebagai seniman dan budayawan muda. Selain mengelola The Blanco Renaissance Museum di Ubud, ia juga sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar, pertemuan, workshop, dan mengembangbiakkan burung jalak Bali. Ia juga concern dengan perkembangan kesenian Bali dan Indonesia, dan sering menyediakan museum yang dikelolanya sebagai ajang aktivitas kesenian. Seperti di akhir November lalu, ia menjadi tuan rumah bagi penyelenggaran pertukaran seniman Indonesia-Amerika ''The Exhibition St. Louis Artists Abroad 2010''.Penghargaan Man of the Year di Indonesia diadakan setiap tahun oleh International Human Resources Development Program (IHRDP). Sejumlah kriteria harus dipenuhi dari tokoh-tokoh yang dipilih. Di antaranya berprestasi dan berdampak nasional, memiliki etos kerja tinggi, mampu meningkatkan harkat dan martabat bangsa, mampu meningkatkan kualitas masyarakat lingkungannya, memiliki visi misi ke depan yang inovatif, berbakti kepada Tuhan Yang Mahaesa. Pihak IHRDP memilih 10 pria dan 10 wanita Indonesia untuk dinobatkan sebagai Man/Woman of the Year berdasarkan kriteria tersebut.Sebagai seniman, sejak lama Mario Blanco selalu ingin memajukan dunia kesenian Indonesia dan Bali. Ia telah melakukan banyak hal di bidangnya, namun terpenting sekarang bagaimana memajukan generasi muda dalam bidang seni budaya. ''Impian dan cita-cita saya menjadikan generasi muda sangat minded dengan seni dan budaya, dan saya kira itu belum terlambat melibatkan generasi muda dalam aktivitas seni budaya,''papar Mario sembari menjelaskan obsesinya sebagai seniman dan tanggung jawab dirinya sebagai seniman dan budayawan.Mario Blanco secara khusus juga mengatakan, penghargaan Man of the Year 2010 yang diterimanya ini secara moral dan kultural ingin ia persembahkan kepada Bali tempat ia lahir, tumbuh dan besar sebagai putra Bali. ''Bagaimanapun, saya seperti sekarang ini karena Bali, dan itu tak akan pernah saya lupakan,'' ungkapnya penuh haru.

Mario Blanco, Generasi Penerus Antonio Blanco yang Cinta Mati Bali

Mario Blanco, Generasi, Penerus, Antonio, Blanco, yang, Cinta, Mati, Bali
Ketenaran pelukis Don Antonio Blanco mungkin tak pernah hilang di Bali. Sebab, meski sudah meninggal 10 tahun lalu, ratusan karyanya tersimpan di museum. Selain itu, anak kedua Antonio, Mario Blanco, telah menjadi “fotokopi” sang ayah. Wajahnya mirip dan dia juga piawai melukis. Apakah sang anak sehebat papanya”
JIKA melihat penampilannya, Mario Blanco tak sama dengan papanya. Semasa hidup, pelukis Antonio Blanco suka mengenakan baret dan bajunya sering berbentuk jubah. Tapi, Mario lebih suka mengenakan pakaian adat Bali. “Meski jarang berpakaian seperti saya, Papa sangat mencintai Bali. Beliau meninggal di sini, dan menghadiahkan seluruh sejarah hidupnya untuk Bali,” kata Mario kepada Jawa Pos yang berkunjung ke rumahnya di kawasan Campuan, Ubud, Bali.
Sambil wawancara, Jawa Pos diajak Mario berjalan mengelilingi The Blanco Renaissance Museum di Campuan, Ubud, Bali. Di museum itulah, sedikitnya 300 lukisan karya Antonio disimpan. Mario menceritakan, dirinya sangat menyesal karena papanya tidak bisa menyaksikan bangunan museum itu selesai. “Papa hanya tahu sampai peletakan batu pertama (pembangunan museum). Beliau meninggal, dan tak sempat menyaksikan museumnya jadi,” cerita anak kedua dari empat bersaudara itu.
Antonio Blanco meninggal karena sakit jantung dan ginjal di usia 87 tahun pada 10 Desember 1999. Dia meninggalkan seorang istri dan empat anak. Mereka adalah: Tjempaka, Mario, Orchid, dan Mahadewi. Semuanya diberi embel-embel Blanco di belakang nama masing-masing.
Mario menceritakan, papanya memiliki ketertarikan sangat besar dan selalu membanggakan budaya Bali sejak tinggal di Pulau Dewata itu pada 1950-an. Dia lantas mengisahkan ketika papanya mengajak ibunya, Ni Ronji, pergi keliling Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. “Waktu itu ibu dibohongi sama Papa, dibilangnya keliling Bali.
Karena itu, ibu pergi pakai baju adat seperti biasa,” cerita pria 47 tahun ini. Ketika ternyata diajak ke luar negeri, tentu saja Ni Ronji kaget. “Tapi, sudah telanjur. Akhirnya, meski berada di luar negeri, ibu tetap saja pakai pakaian adat Bali. Ternyata itu yang diinginkan Papa. Beliau sangat bangga dengan Bali, meski bukan orang asli Bali,” tuturnya.
Antonio memang bukan asli Bali. Dia berdarah campuran Spanyol dan Italia. Dia lahir di Filipina, tapi besar di Amerika Serikat. Dia cukup lama menjadi warga negara Amerika. Antonio menginjakkan kaki di Bali pada 1950-an, dan tinggal di Ubud. Pada 1953, dia menikahi Ni Ronji yang waktu itu berprofesi sebagai penari dan pernah menjadi model lukisan Antonio. Pasangan ini dikaruniai empat anak.
Rasa cinta Antonio terhadap Bali dan Indonesia juga terlihat ketika dia berwasiat ke Mario. “Sebelum meninggal, Papa berwasiat agar kami tidak memamerkan atau menitipkan lukisan-lukisan beliau di museum luar negeri,” katanya. “Papa ingin, kalau ada yang mencari lukisannya, harus datang ke Indonesia, yakni ke Bali. Tidak datang ke mana-mana,” lanjut pria kelahiran 4 Juli 1962 itu.
Dia menambahkan cerita lain, ketika D.H. Dhaimeler, penulis asal Perancis, menulis buku berjudul Fabulous Blanco. Saat itu Dhaimeler merayu Blanco agar buku tersebut dijual di toko buku berskala internasional. Tapi, saat itu Antonio menolak. Dia hanya ingin buku itu ada di museumnya. “Papa saya bilang, bapaknya Mario tidak akan kaya karena buku itu. Tapi ingin membuat sesuatu yang sangat bernilai tinggi. Jadi, buku itu hanya dijual di sini,” pesan Antonio saat itu, seperti ditirukan Mario.
Kini kecintaan Antonio terhadap Bali menular ke Mario. “Bali is my life, my house, my home,” kata Mario mantap. Kebetulan juga, dari empat anak Antonio, hanya Mario yang mewarisi bakat melukis. Itu pun disadari terlambat, setelah dia menjalani hobi dan profesi di bidang otomotif dengan mengikuti berbagai kejuaraan off road, slalom, atau rally. “Enam bulan setelah ayah saya meninggal, itu berat sekali. Saya melukis juga belum hebat banget,” pikir pria alumnus bidang Seni Rupa Universitas Udayana itu.
Sebelum Antonio meninggal, Mario sempat bertanya apakah boleh menjual lukisannya agar uangnya bisa digunakan untuk merawat museum. Ternyata tidak boleh. “Saya nggak diajari melukis, saya nggak boleh kerja, nggak boleh kuliah ke luar negeri. Lalu dari mana dapat uang untuk merawat museum dan lukisan?” tanya Mario saat itu kepada papanya. “Saat itu Papa hanya pandang mata saya, terus dia bilang, ‘Suatu saat nanti kamu akan bisa’,” kenang Mario.
Kalimat sang papa itulah yang menjadi motivasi Mario untuk belajar sendiri melukis. Lama-lama karya lukis Mario semakin mendapat apresiasi. Mario juga mulai diundang ke berbagai negara. Sebulan lalu, dia baru saja presentasi ke beberapa kampus di Ohio dan Chicago, sekalian memamerkan lukisannya. Pria yang saat kuliah semester tiga menjadi utusan Indonesia pada Youth Asian Painter di Singapura itu juga mulai menghidupkan peninggalan berharga Antonio, yaitu Museum Blanco.
Jika Antonio pada masa hidupnya sering mendapat tamu asing, termasuk salah satunya vokalis Rolling Stones, Mick Jagger, yang sampai berkunjung ke rumahnya pada akhir 1980-an, dan diajak bertemu Michael Jackson di Singapura pada 1993, Mario lain lagi.
Mario merasa lebih sering menerima tamu pejabat Indonesia, termasuk figur fublik dan artis. Pada Agustus 2007, Presiden SBY datang berkunjung bersama tujuh menterinya. “Sebelumnya, pada Juli (2007) itu saya menghadiahkan lukisan Kelapa. Saya diundang ke Cikeas,” ucapnya, bangga. Dari sisi prestasi Mario berharap bisa menyamai ayahnya. 

2010 St. Louis Artists Abroad - Press Conference and Opening Night in Ba...

ST.LOUIS ARTISTS ABROAD


Sebelas orang seniman Amerika Serikat yang tergabung dalam St Louis Artists Guild berkunjung ke Indonesia selama 2 minggu dalam program “St Louis Artists Study Abroad 2010”. Program kerjasama antara Konsulat Jenderal RI Chicago dan St Louis Artists Guild ini merupakan salah satu implementasi ”Kemitraan RI-AS” di bidang sosial budaya. Melalui program tahunan ”Study Abroad”, para seniman AS dan Indonesia saling berkunjung untuk mempelajari budaya masing-masing dan menginspirasi karya mereka dengan perpaduan dari dua budaya tersebut.

Tim Seniman AS yang terdiri dari pelukis, pemahat, fotografer, designer, dan pecinta seni tiba di Indonesia sejak tanggal 20 September 2010 dan akan kembali ke AS pada tanggal 5 Desember 2010. Selama di Indonesia mereka mengunjungi Jakarta dan Bali untuk mempelajari seni budaya Indonesia. Tim seniman AS juga telah mengadakan ”Pameran Seni Rupa RI-AS” di Blanco Renaissance Museum, Ubud, Bali pada tanggal 26-28 November 2010 dan akan mengadakan Pameran di Museum Nasional, Jakarta pada tanggal 2-4 Desember 2010.

Pameran Seni Rupa RI-AS di Blanco Rennaisance Museum dibuka secara resmi oleh Konsul Jenderal RI Chicago Benny Bahanadewa pada tanggal 26 November 2010 dan dihadiri oleh sekitar 500 undangan. Acara pembukaan ditandai dengan pengguntingan pita dan dimeriahkan dengan beberapa tarian trasisional Bali yang dibawakan oleh penari Swara Mahardika dan penari asal AS. Pameran seni rupa ini menampilkan karya lukis, seni pahat dan patung, fotografi, design dan kerajinan tangan karya para seniman AS dan seniman Bali, termasuk Mario Blanco dan Delia von Rueti. Selain di Bali dan Jakarta, karya-karya yang diinspirasi oleh perpaduan budaya Indonesia-AS tersebut akan dipamerkan pula di beberapa kota di beberapa kota di AS, antara lain di Chicago, St. Louis, Kansas, dan Washington DC.

Konsul Jenderal RI Chicago, Benny Bahanadewa dalam pidato pembukaan pameran di Museum Blanco mengatakan bahwa program ini merupakan salah satu bentuk sumbangan penting dalam upaya memperkuat dan meningkatkan hubungan kerjasama dan persahabatan antara Indonesia-AS, khususnya di bidang sosial dan seni budaya. Program ini akan menjadi program tahunan dalam upaya pengenalan dan pembelajaran seni budaya Indonesia kepada seniman AS dan sebaliknya.

Selama berada di Bali, para seniman AS didampingi pelukis ternama Indonesia, Mario Blanco mengadakan pertemuan dengan pewaris Puri Ubud, mengikuti workshop melukis di atas telur serta belajar seni rupa Indonesia pada sejumlah maestro pelukis tradisional, antara lain, pelukis bergaya Young Artist I Ketut Soki dan pelukis bergaya tradisional dengan tema modern Dewa Nyoman Batuan. Mereka juga berinteraksi langsung dengan masyarakat Ubud dan melihat penari berlatih di balai banjar. Direktur Eksekutif St Louis Artists Guild yang juga pimpinan rombongan menyampaikan kesan-kesannya yang sangat impresif. Menurutnya, pengalaman para seniman AS selama di Bali memberikan pemahaman yang berbeda dalam melihat seni budaya, terutama di Ubud di mana seni budaya menyatu dalam aktivitas adat dan ritual, bukan sekedar media untuk mengekspresikan diri. Hampir semua orang di Bali adalah seniman karena segala hal dibuat dengan cara yang indah, ungkapnya. Sejumlah ide yang muncul dari workshop dan pameran ini akan segera digarap oleh para seniman AS.

Pada kunjungan di Jakarta, para seniman AS tersebut akan mengikuti Workshop Membatik di Museum Tekstil, mengunjungi tempat–tempat seni dan bersejarah, mengadakan Pameran Seni Rupa di Museum Nasional, dan melakukan kunjungan kehormatan kepada Gubernur DKI Jakarta dan Menteri Pariwisata RI. Selain kegiatan budaya, beberapa seniman AS yang juga berprofesi sebagai pengusaha dipimpin oleh Konjen RI Chicago dan Harry Lim akan melakukan kunjungan ke beberapa Rumah Sakit untuk mengadakan penjajagan atas rencana
bantuan pemberian peralatan medis dari BJC Hospital Group, St. Louis kepada rumah sakit-rumah sakit di Indonesia.

Menurut Konsul Penerangan, Sosial dan Budaya KJRI Chicago, pada kunjungan tahun pertama ini, para seniman AS ingin mengenal lebih dekat dan mempelajari seni budaya Indonesia terutama membatik dan seni rupa agar sekembalinya dari Indonesia mereka dapat turut memperkenalkan dan mengajarkan seni budaya Indonesia di AS. Kegiatan para seniman AS di Indonesia ini diliput oleh berbagai media elektronik dan cetak, antara lain : TV VOA (Voice of America), TVRI, Trans TV, Bali TV, Tempo, Bali Post, Nusa Bali , Radar Bali, Indonesian Tetler., Love Indonesia, dan majalah Forbes.

Pemerintah negara bagian Missouri pada tanggal 17 September 2010 telah memberikan piagam penghargaan kepada Konsulat Jenderal RI Chicago atas peran aktif dalam kolaborasi pengembangan dan pertukaran budaya Indonesia – AS, khususnya di negara bagian Missouri, AS dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

St. Louis Artists's Guild, organisasi nirlaba yang dibentuk tahun 1886 merupakan kelompok para seniman AS di wilayah Midwest yang berlokasi di kota Clayton, Missouri. Anggotanya saat ini berjumlah 800 orang seniman AS yang terdiri dari pelukis, arsitek, photograhers, pendidik seni dan pecinta seni lainnya. Kegiatan rutin kelompok ini antara lain menjadi tuan rumah pameran seni AS dan berpartisipasi di berbagai event seni budaya nasional dan internasional. (Sumber: Pensosbud/KJRI Chicago)

Perginya Sang Perawat Tradisi Perempuan Bali






OBITUARI

SELAMAT JALAN, NIRONDJI


KATA orang bijak, hidup kita ini sangat singkat. Kita semua akan melaluinya. Nun, di sebuah subuh yang teduh di Ubud, Minggu, pukul 04.50 Wita, Ni Rondji berpulang ke desa wayah (meninggal) dengan tenang. Kepergiannya begitu tib-tiba, tak ada gejala, tak ada tanda-tanda. Hanya sebuah peristiwa kecil, terjatuh dari kursi, lalu dari sana segalanya berakhir. Seluruh keluarga besar Blanco menunduk, murung dan berurai airmata. Alam Ubud yang mendung, gerimis dan kadang hujan deras pada hari itu seperti melengkapi kesedihan itu.

Keedihan itu juga terasakan oleh para kerabat dan para sahabat. Kediaman keluarga Blanco di bilangan Campuhan, Ubud, seperti tiada henti dikunjungi kerabat dekat dan jauh, juga para sahabat yang turut menyatakan bela sungkawa mereka. Di jejaring internet Facebook Mario Blanco, ribuan orang turut menyatakan bela sungkawa mereka, dan hingga hari ini masih mengalir ucapan-ucapan yang bernada duka itu. Inilah sebuah tanda betapa kepergian Ni Rondji sungguh memiliki arti bagi banyak orang.

Mengapa berpulangnya Ni Rondji menyentak hati banyak orang? Mengapa jejak langkahnya sepanjang hidupnya di hari-hari kemarin

memikat perhatian sejumlah kalangan? Pertanyaan ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan sosok yang bagi Ni Ronji adalah pujaan, kekasih, sahabat, suami; ialah mendiang sang maestro Don Antonio Blanco! Ya, nama yang disebut terakhir inilah

menuntaskan dua pertanyaan di atas; kebersamaan Ni Rondji dan Antonio Blanco dalam

suka dan duka. Ni Rondji adalah pesaksi paling dekat atas jejak sejarah seorang maestro Don Antonio Blanco.

Ni Rondji adalah orang desa yang lahir di desa Penestanan, Ubud. Ia gemar menari sejak remaja. Kemudian memantapkan kegemarannya menari dengan belajar menari dari empu tari I Maria dari Tabanan setelah ia menikah dengan Antonio Blanco (selanjutnya dalam tulisan ini disebut Blanco saja) pada tahun 1953. Sebagai rasa trimakasih dan kagum kepada I Maria, Blanco dan Ni Rondji bersepakat untuk menamai anak lelaki mereka dengan nama yang sama “Maria”, kemudian karena pergeseran ucapan Blanco, nama Maria lalu berubah menjadi “Mario”.


Sejak pernikahan Ni Rondji dan Blanco, mereka mulai mengarungi masa-masa kebersamaan yang penuh romansa; hidup sahaja, latar balakang desa yang rimbun oleh pohon-pojon besar, jauh dari kota seperti Denpasar, dan yang lebih utama dari itu ialah Ni Rondji—sepanjang kebersamaannya dengan orang terkasih—harus menjadi perempuan yang “serbabisa”; menari, menjadi model lukisan, menemani kekasih menemui para sahabatnya yang pada waktu itu adalah orang-orang penting seperti Presiden RI I, Ir. Soekarno dan sejumlah bintang film dari Hollywood. Di atas semua itu, perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga juga tak ia tinggalkan. Ia juga menjadi “perantara” perhubungan antara orang-orang di Ubud dengan suaminya. Semua itu dimainkan Ni Rondji dengan hampir sempurna.

Meski hanya seorang perempuan desa, namun Ni Rondji adalah orang yang cepat belajar. Ini tentu tak lepas dari peran Blanco yang mengarahkan dan menuntunnya untuk menerima kenyataan kehidupan baru mereka. Menjadi model dan penari, menjadi pendamping suami yang seniman murni, menjadi ibu rumah tangga yang gesit dan tabah; adalah kenyataan-kenyataan yang menantang dan menggairahkan bagi Ni Rondji. Bersama Blanco, ia menerima kenyataan itu sebagai romance yang manis dan penuh dengan cinta.

Di tengah perjalanan rumah tangga mereka yang penuh cinta, Ni Rondji mendapatkan satu kenyataan yang selalu ia sadari, bahwa menjadi seorang istri seniman sejati sungguh-sungguh membutuhkan cinta, ketabahan, keberanian, berani selalu memandang ke depan, selalu tabah karena kenyataan betapa banyaknya kesulitan yang mereka hadapi. Sebagai seniman jelaslah sandaran hidup adalah lukisan, namun betapa miris ketika mengetahui bahwa suaminya lebih memilih hidup prihatin dan sahaja daripada menjual lukisan. “Uang cepat habis tapi lukisan tidak!” ungkap Blanco manakala suatu hari Ni Rondji berharap kekasihnya bersedia menjual lukisannya.

Itulah yang akhirnya diterima Ni Rondji, namun kemudian ia tersentak betapa benarnya ungkapan suaminya. Lagipula ia sejak kecil telah terlatih menjalani kehidupan dengan sederhana dan prihatin sebagai perempuan desa Ubud. Maka, dengan kebersamaan yang hangat dan penuh dengan kasih dan cinta, Ni Rondji mendampingi suaminya Blanco dalam menapaki hari-hari yang penuh dengan romansa. Kesulitan-kesulitan hidup tak lagi terlalu mengganggunya selama kebersamaan mereka dinaungi oleh cinta yang tulus dan kesetiaan yang telah teruji.

Sebagai penari, Ni Rondji tak menghilangkan kemahirannya menari. Orang-orang penting yang datang ke rumahnya yang rimbun, teduh dan sederhana itu selalu ia sajikan tarian dan mengekspresikannya di depan mereka. Ia berkali-kali menari di hadapan Presiden Soekarno dan sejumlah orang penting dalam dan luar negeri. Kemahirannya menari ini juga ia ekspresikan ketika bersama Blanco melawat ke Amerika pada tahun 1957. Selama 2 tahun berkeliling Amerika dan mengunjungi tempat-tempat dan tokoh penting negeri Paman Sam itu, tugas dan peran Ni Rondji adalah menarikan sejumlah tarian Bali yang dikuasainya. Dan sepanjang itu pula ia selalu berbusana tradisional Bali. Bahkan beberapa kali ia harus menari di musim dingin dengan pakaian tari yang terbuka bahu dan di atas dada. Rasa dingin yang menyengat dihalaunya oleh semangat yang tinggi untuk memperkenalkan identitas dan budaya Bali.

Selain di Amerika, Ni Rondji harus terus mendampingi Blanco menemui orang-orang penting di Amerika, dan turut menjadi narasumber bagi kebudayaan Bali, selain menari tentunya. Mereka berdua tak kenal letih mempromosikan Bali kepada orang-orang yang mereka kenal di Amerika, mencitrakan kebudayaan Bali sebagai kebudayaan yang sangat luhur dan humanis, mengundang mereka untuk datang ke Bali suatu hari nanti. Dan ikhtiar mereka mempromosikan Bali akhirnya berbuah hasil, karena setelah mereka kembali ke Ubud, tak sedikit orang-orang Amerika mengunjungi rumah mereka di Campuhan, Ubud.

Pelawatan Blanco ke Amerika sepenuhnya untuk promosi tentang Bali. Ini tak bisa dilepaskan dari amanat yang dititahkan Raja Ubud, suatu hari di tahun 1952 saat pertama kali Blanco menginjak Ubud. Raja Ubud, Tjokorda Agung Saren Sukawati, menitahkan agar Blanco mendiami sebuah kawasan di daerah Campuhan dengan catatan, Blanco harus mempromosikan Bali kepada para sahabatnya dan orang-orang di mana pun, terutama dari luar negeri. Blanco menyanggupi dengan sepenuh hati, dan beberapa tahun setelah pernikahannya dengan Ni Rondji, mereka berdua berangkat ke Amerika.

DALAM perkawinan Ni Rondji dan Blanco, mereka dikarunia 4 putra-putri; Cempaka Blanco, Mario Blanco, Orchid Blanco dan Mahadevi Blanco. Satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara itu adalah Mario Blanco, dan satu-satunya pula yang mengikuti jejak Blanco sebagai pelukis. Sepeninggal Blanco pada tahun 1999, Ni Rondji harus merawat, menjaga dan mengasuh keempat anaknya. Meski begitu berat ditinggalkan oleh orang yang paling dicintainya, namun Ni Rondji melanjutkan kehidupan dan meneruskan apa yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya, yakni merawat anak-anak dengan penuh kasih dan merawat dengan penuh kasih pula peninggalan suaminya berupa sebuah museum bernama The Blanco Renaissance Museum yang memajang ratusan karya-karya suaminya.

Ditemani Mario Blanco, Ni Rondji dengan hati-hati dan penuh perhatian meneruskan apa yang telah diwujudkan dan diwariskan Blanco; yakni menjadikan Museum Blanco sebagai salah satu aset bangsa yang harus diselamatkan dan disebarluaskan keberadaan dan kiprah Blanco dan warisan yang ditinggalkannya. Dan pesaksi paling dekat dari sejarah panjang Sang Maestro adalah Ni Rondji dan putra-purtrinya, dan oleh karena itu mereka terus berikhtiar dan berjuang agar warisan Blanco bisa bermanafaat dan berarti bagi generasi penerus bangsa, terutama kalangan generasi mudanya. “Kami ingin warisan Sang Maestro (Don

Antonio Blanco) dapat menjadi teladan bagi pembangunan kebudayaan di negeri kita, terutama bagi generasi mudanya,” ungkap Mario Blanco.

Kini salah satu pesaksi penting sejarah

perjalanan Sang Maestro Don Antonio Blanco, yakni Ni Rondji, telah berpulang dan menyusul sang kekasih hati “di sana”. Banyak sungguh orang-orang merasa kehilangan seorang perempuan Bali yang tangguh dan setia dan penuh welas asih terhadap sesama.

Selamat jalan, Ni Rondji, selamat jalan ..
























Maestro Don Antonio Blanco

Blancography
Antonio Blanco was born on September 15, 1911, at Manila, capital of the Philippine Island. Both parents are Spanish hailing a fact that Blanco believes links him geographically and spiritually to Miro and Salvadore Dali. His father settled in Manila during the Spanish - American war where he attained prominence as a physician. Blanco was educated at the American Central School in Manila. During his high school years he loved the arts, literature and language classes but struggled in scientific subjects. No wonder he spoke six languages - Spanish, French, English, Tagalog, Indonesian and a bit of Balinese. After completing high school in Manila, Blanco studied at the National Academy of Art in New York under Sidney Dickinson. Even during those early formative years, Blanco concentrated on the human form, fascinated by the female body more than any other subject matter. To further his studies and ignite his traveling spirit, he traveled extensively throughout the world before he finally landed on Bali in 1952. The King of Ubud gave Blanco a piece of land to set up his home and studio in Campuan Ubud at the confluence of two sacred rivers. Blanco and his Balinese wife, celebrated dancer Ni Ronji, lived in their mountain retreat barely leaving it for the world outside. After a brief trip to the United States where Blanco secured many new collectors, the couple didn't leave their fantasy home at all.

Litograf











MASTERPICE

Ni Bawang (The Cinderella of Bali) Oil on canvas (around 1964) Collection of the Blanco MuseumThe legend of Cinderella is found in many forms all over the world. Here is my version: There are four girls; three are very ugly and egotistical. The Step Mother hates Cinderella, the fourth girl, and harasses her constantly. Cinderella finally leaves home and, when she reaches the mountains, Magic Birds befriend her and shower her with gifts of gold, diamonds and love. This legend ends with a Handsome Prince marrying Cinderella and they live happily ever after.
Balinese Dancer My temperature, our sensual-sense-of-humor, really went sky-high on this collaged poem. I present Jacko herewith selling hats (there is a mountain of hats upon his head). And, then, my poem tells the tale of how this black turned to white. Then I add that the bigger question, or issue, would be: "What would be the color of Michael penis?" Then I state that I am the only one who can answer that pertinent question - by lifting his black hatt off my frame - and, Lo! A tiny orange carrot is disclosed. Remember, there is a method to my madness... Jacko isEve's Apple is Still Intact
Oil on canvas (1967) Frame designed by Blanco
Collection of the Blanco Museum
Geometric shapes influence us greatly. Here this nude, enveloped within a horizontal oval, would affect us differently were it upright, square, or rectangular. The girl, the apple, the glass flask between her loins, voila! Another of Blanco's erotic fantasies.
Erotica Water color on paperErotic works of art could be taken seriously; but this painting with five collaged pink candles is just a lot of fun! The circle is the yoni and the topmost candle is obviously the linggam. The stability of my frame is attained by the pyramid effect of the candles. The woman is happy, indeed, surrounded by all this artistic conglomeration.


Portrait of I Kebak Oil on canvas (1967) Frame designed by Blanco Collection of the Blanco Museum

My wife's late father was Chief, re-elected, in his village in Bali for several years. The dominant expression of his eyes speaks of a man who could lead his village and have the people follow and trust him.
Bali Girl Oil on canvas

Now and then, when a painting is sold, and its collector eventually needs money, I buy it back such as this one to add to our permanent collection in our museum in Bali. This brown-skinned girl of Bali sports a turban upon her head of stylish rainbow colors. Frame, Blanco design.
Odalisque (A Corner in the Blanco studio)
Oil on canvas (1969)
Collection of the Blanco Museum

Odalisque is a Turkish word, which implies that (let us say) a Rajah maintains a concubine indoors in his Palace. The seeming disarray in this (oil on canvas) painting speaks of the Greek advice to create works that entail asymmetrical balance that is more enchanting than Balance.Asymmetry ONLY appears as disarray but? finds its center of Balance! I believe this, and have time-testedit in my works of Art?and Life!




Our Young painter

Mario Blanco, the second child of the famous artist Antonio Blanco, was born in Ubud - Bali on the 4th of July 1962. He has been surrounded by art from childhood. Without any doubt, his Father Antonio Blanco is the most famous artist of the island of Bali. The elder Blanco invited very early the young Mario to share, in his studio in Campuan, his great enthusiasm for art. Mario painted his first oil at the young age of five and later chose to study art at the University of Udayana in Denpasar where he successfully graduated.
Inevitably the art of Mario has inherited two different origins. His Spanish Father introduced him to the European techniques of art and his Mother Ni Ronji, a famous Balinese dancer, gave him the native artistic feeling. Mario has certainly developed this intensively through his paintings expressing a real preference for a romantic impressionistic style.
Being the son of the "Fabulous Blanco", Mario faces a strong challenge but we can see from his artworks that he is trying to take distances from his father, expressing with talent elaborated landscaped where admirably emerge his own visions of Balinese atmosphere.
Paintings









"MUSEUM" The Blanco museum is a place where you can savor Balinese life in motion, with a visit to the family temple or stroll through the gardens. Everywhere there are touches of Antonio Blanco's life. The artist's studio remains undisturbed, the unfinished painting still on the sunken easel. Women wander through the yard, in traditional Balinese dress carrying offerings. The visitor can see the delicate flower and palm leaf offerings being made in the courtyard. The Blanco family provides a personal tour of the museum and grounds.
History
The Blanco museum embodies Antonio Blanco's life and dreams. Built in his former home on the gentle hilltops of Campuan, Ubud since December 28th 1998, the Blanco Museum exudes a rococo charm. Many streams of Balinese life converge in this extraordinary building, as the museum site continues to represent the Balinese world as seen through Blanco's eyes.
Blanco built the museum to commemorate his love for Bali and to house his important works. It is built on 20.000 square meters land in accordance with the precepts of the Hindu faith. The three stories are symbolic of Balinese faith, and represent the Upper, Middle and Lower worlds, where Gods, man and Demons all have a rightful place, hence, the topmost floor of the museum houses the artist's most esoteric works.
A huge green Italian marble archway in 15 meters height fronts the entrance steps, that are also guarded by two massive mythical stone dragons. The fountain in front of the entrance is an emissary of the waves of the sea, also connected to the whole cosmos. The museum has a pair of stairs symbolizing all duality in the material world. The second level of the museum represents the Middle world. It is here that Antonio Blanco's poetry is conserved.
Gallery
"A thing of Beauty is a joy forever". It is painted on the wall of the gallery and becomes a reminder that the gallery has been a witness of the beauty of arts by Blanco's family. Nowadays the gallery presents a microcosm of Antonio Blanco's world and houses both of the maestro's works and Mario's.

Studio
Brushes scatter, the walls are covered by paintings and Beethoven symphony is audible vaguely - it is the atmosphere that will be found inside the studio where the master used to create his masterpieces. Frozen in time, the artist's studio is preserved exactly as on the last day Antonio Blanco painted in it. He has gone but the memory remains. Now the studio is opened to the public and it becomes the workplace of Mario, the maestro's only son.


Rondji Restaurant


After wander around within the museum, you can relax and enjoy the genuine Balinese atmosphere in the museum's café. The café serves a range of European and Asian menus and snacks, including Balinese traditional meals.


Amphitheatre
The amphitheatre was built for the Antonio Blanco's oldest daughter, Tjempaka, as an accolade for her performance. She used to be a dancer, an actress and also a model of several Blanco's paintings. Nowadays the amphitheater is being renovated to revive the Balinese performing arts. Balinese dances and dramas will be coming soon on The Blanco's Renaissance Museum's Amphitheater.

Family Temple
Temples are grand meeting place where the gods descend from their celestial abodes to meet with the community. Temples become the interface between the seen and unseen worlds of Balinese life. A series of gates divide the space into courtyards with specific functions. Within these courtyards are the various structures, which facilitate and give meaning to the activities of temple ceremony.




Gift Shop
The gift shop is open Monday through Sunday at 09.00 am - 05.00 pm, offering a wide array of Asian artifacts to suit all tastes. The special ones are handmade teapot and glass-platter with The Renaissance Museum's logo on them; all are made from ceramic. If you prefer something that you can wear, the gift shop also provides shirts and silk scarf. The merchandise have fair price both in US$ and Rupiah.

Make A Visit
Address
The Blanco Renaissance Museum
Campuan, Ubud
Bali - Indonesia
P.O. Box 80571
Phone. 0361-975502
Fax. 0361-975551
e-mail a-blanco@indo.net.id
Admission
Domestik. Rp.30.000 Internasional. Rp.50.000
Group tours or visits can be arranged through Visitor Services, 0361-975502
HoursThe museum is open to public from 9am to 5pm daily including Sunday and public holidays

The Cremation
The Cremation of Don Antonio Blanco was held at the house in Campuan, Ubud – Bali preceded by Balinese ritual ceremonies starting December 23, 1999. The Cremation Ceremony itself, (also known as Ngaben in Balinese), took place on December 28, 1999 where thousands of people around the world came to pay their respect and bid farewell to the fabulous Maestro for the very last time.